Pelajaran Menarik dari Top Brand

MAKASSAR BISNIS.COM – Setiap marketer pasti mempunyai beban tanggung jawab untuk mengelola atau membangun merek. Sebab, merek memiliki peran sangat strategis dan menentukan mati-hidupnya sebuah perusahaan. Merek merupakan kombinasi dari nama, kata, simbol, atau desain yang memberi identitas produk. Dengan adanya merek, perusahaan akan mudah memasarkan produknya. Mengusung merek yang kuat, perusahaan juga akan mampu memenangkan persaingan.

Merek-merek seperti Telkomsel, Toyota, Garuda Indonesia, Promag, Indomie, adalah contoh merek-merek yang kuat sehingga mampu memenangkan persaingan. Bahkan merek-merek tersebut setiap tahunnya mampu meraih Top Brand Award dengan posisi teratas. Kesuksesan ini tentu saja tidak terlepas dari kepiawaian marketernya dalam membangun merek.

Banyak strategi dan aktivitas marketing yang dapat diterapkan untuk membangun kekuatan merek. Berbagai teori maupun buku yang membahas tentang strategi membangun merek bisa dengan mudah kita dapatkan. Tinggal kemampuan marketer bagaimana menjalankan strategi tersebut untuk menciptakan merek yang kuat.

Namun menurut Handi Irawan, CEO Frontier Group dan Penggagas Top Brand Award, ada tiga hukum untuk bisa membangun merek yang sukses. Pertama, merek haruslah dibangun melalui quality before price, artinya menciptakan kualitas terlebih dahulu ketimbang harga.

Para pemenang Top Brand umumnya memiliki harga lebih premium. Meski begitu, konsumen justru lebih memilih atau menggunakan merek-merek ini (pemenang Top Brand). Hal tersebut karena umumnya merek-merek pemenang Top Brand concern terhadap kualitas. Sehingga mereka bisa dipersepsi sebagai merek berkualitas baik.

Sebagai contoh Rucika, merek produk pipa PVC ini lebih mengutamakan kualitas ketimbang bersaing dengan harga. Persaingan pasar yang semakin ketat tidak menjadikan Rucika ikut bermain di harga. Merek yang sebelumnya bernama Wavin ini sadar bahwa produknya merupakan produk yang digunakan dalam jangka panjang, sehingga kualitas produk sangat diperhatikan. Hasilnya pun tidak percuma, yaitu merek ini disukai oleh banyak konsumen.

Hukum kedua adalah innovation before cost. Handi Irawan menyampaikan bahwa perusahaan yang mengedepankan inovasi telah menjalankan hukum kesuksesan Top Brand yang kedua. Perusahaan-perusahaan ini melakukan perbaikan berkelanjutan, diferensiasi, dan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen demi pencapaian efektivitas, bukan sekadar mengejar efisiensi.

Di jajaran industri telekomunikasi, Telkomsel terkenal dengan berbagai inovasinya. Memperkuat merek di tengah persaingan yang ketat, mengedepankan kualitas dan inovasi adalah jurus yang digunakan Telkomsel. Inovasi tidak hanya dari sisi produk, namun juga dari aktivitas marketing. Hasilnya tidak sia-sia, Telkomsel tetap bertengger di posisi puncak tangga Top Brand.

Hukum ketiga adalah engagement before sales. Handi Irawan menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan pemilik Top Brand mengutamakan fokus untuk membangun keterlekatan merek dengan konsumen serta hubungan yang erat demi meraih loyalitas. Strategi penjualan produk didasarkan pada upaya membangun customer engagement serta brand loyalty, bukan yang lain.

Di masa mendatang, dengan semakin besarnya peran teknologi digital, maka strategi engagement menjadi semakin penting. Kita tahu di industri digital, yang lebih dulu diutamakan adalah menciptakan engagement dan bukan revenue, apalagi laba.

Di Indonesia contohnya banyak. Perusahaan seperti Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, Lazada, dan Gojek, selalu fokus kepada customer engagement terlebih dahulu. Investor menghargai perusahaan-perusahaan ini dengan nilai tinggi karena adanya engagement yang sangat tinggi dengan para pelanggannya.

Jadi, engagement dipercaya akan menjadi dasar untuk membangun merek yang “Top” dan kemudian menciptakan perusahaan yang menguntungkan di masa mendatang.

Sumber: Marketing.co.id

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *